Makassar Leadership Summit 2026 Bahas Masa Depan Kepemimpinan di Tengah Disrupsi

BERITA45.COM, MAKASSAR — Perubahan teknologi, dinamika dunia kerja, tekanan bisnis, hingga ekspektasi masyarakat yang semakin kompleks, membuat makna kepemimpinan terus berkembang.

Kondisi tersebut menjadi latar penyelenggaraan Makassar Leadership Summit (MLS) 2026, yang akan digelar pada 8 Oktober 2026 di Sandeq Ballroom, Claro Hotel Makassar.

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini diselenggarakan oleh PMSM, GNIK, dan APINDO, sebagai ruang dialog lintas sektor mengenai tantangan dan masa depan kepemimpinan.

Mengusung tema “The Future of Leadership Starts Here”, MLS 2026 mempertemukan pemimpin, praktisi, profesional, dan komunitas untuk membahas kepemimpinan secara lebih substantif.

Pembahasan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga bagaimana pemimpin membaca perubahan, membangun kepercayaan, menjaga manusia di tengah tekanan kinerja, serta mempersiapkan organisasi menghadapi era artificial intelligence (AI).

Ketua Panitia MLS 2026 sekaligus Founder Insight Indonesia, Fauziah Zulfitri, S.Psi., M.M., PCC, mengatakan, forum tersebut diharapkan menjadi ruang refleksi bagi para pemimpin, untuk melihat kembali kebutuhan kepemimpinan di masa depan.

“Kami ingin Makassar Leadership Summit menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas kepemimpinan, lalu melihat kembali pertanyaan yang lebih mendasar: pemimpin seperti apa yang dibutuhkan oleh masa depan?” ujar Fauziah.

Menurut dia, kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan posisi yang dimiliki seseorang, tetapi juga kemampuan menciptakan perubahan, menumbuhkan orang lain, dan meninggalkan organisasi dalam kondisi yang lebih baik.

Hadirkan Jusuf Kalla hingga Menteri Ketenagakerjaan

Rangkaian MLS 2026 dirancang dengan spektrum pembahasan, yang bergerak dari fondasi kepemimpinan hingga tantangan organisasi pada masa depan.

Sesi pembuka menghadirkan H.M. Jusuf Kalla melalui keynote bertajuk “Leading from the East”. Sesi tersebut mengangkat pengalaman kepemimpinan yang berakar dari Indonesia Timur, dengan penekanan pada keberanian mengambil tanggung jawab, membangun kepercayaan, mengambil keputusan, serta menyelesaikan persoalan nyata.

Perspektif tersebut kemudian diperluas melalui keynote Prof. Yassierli, Ph.D., Menteri Ketenagakerjaan RI, dengan materi “Transforming Bureaucracy for Faster and Impactful Labor Policies”.

Pembahasan diarahkan pada bagaimana pemimpin mendorong transformasi birokrasi, agar lebih adaptif, responsif, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil.

Agenda MLS 2026 juga menghadirkan sejumlah panel dengan perspektif berbeda, antara lain Inclusive & Sustainable Leadership yang membahas aspek people, planet, dan nilai jangka panjang.

Selain itu, sesi Human Centered Leadership akan mengeksplorasi empati, autentisitas, kerentanan, kepercayaan, serta hubungan antara pengalaman karyawan dan kinerja organisasi.

Pada sesi siang, pembahasan berlanjut ke “Transformational Leadership: Challenging the Status Quo to Drive Meaningful Change”.

Panel tersebut menghadirkan Irfan Setiaputra, mantan CEO Garuda Indonesia; Tommy Watimena, CEO Great Giant Foods; dan Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Ketiganya akan membahas tantangan pemimpin dalam menghadapi status quo, resistensi, pengambilan keputusan sulit, hingga bagaimana memastikan perubahan menghasilkan dampak yang bermakna.

Pembahasan kemudian berlanjut pada “Resilience Leadership: Turning Challenges into Growth”, sebelum ditutup dengan perspektif “AI Ready Leadership: Where to Start?”.

Sesi tersebut mengangkat pertanyaan, mengenai bagaimana pemimpin dan organisasi memulai perjalanan AI secara relevan, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi menghubungkannya dengan persoalan bisnis, customer value, people, dan kualitas pengambilan keputusan.

Wakil Direktur GNIK Area Sulsel, Hasnaeni Asri mengatakan, kebutuhan terhadap ruang dialog kepemimpinan semakin penting. Menurut dia, perubahan organisasi tidak hanya ditentukan strategi dan teknologi, tetapi juga kualitas manusia yang menjalankannya.

“Kita sedang berada pada fase ketika organisasi tidak hanya membutuhkan leader yang mampu mencapai target, tetapi leader yang mampu membaca perubahan, dan menggerakkan manusia untuk menghadapinya bersama,” kata Hasnaeni.

Dia menilai pengembangan kepemimpinan tidak cukup berhenti pada pengetahuan. Hal tersebut harus diterjemahkan ke dalam cara berpikir, mengambil keputusan, serta memperlakukan manusia di dalam organisasi.

Bagi Hasnaeni, MLS 2026 juga memiliki arti bagi ekosistem kepemimpinan di Sulawesi Selatan, karena mempertemukan perspektif dari berbagai industri dan latar belakang.

Dialog lintas sektor, kata dia, memungkinkan peserta melihat bahwa tantangan kepemimpinan dapat berbeda sesuai konteks. Namun, terdapat pertanyaan mendasar yang sama, yakni bagaimana menciptakan organisasi, yang mampu bertumbuh tanpa kehilangan nilai dan sisi kemanusiaannya.

MLS 2026 dirancang tidak hanya memberikan inspirasi, tetapi juga mendorong peserta menerjemahkan gagasan yang diperoleh, menjadi tindakan nyata setelah kembali ke organisasi.

Setiap sesi diarahkan untuk menghasilkan leadership takeaways, yang dapat diterapkan peserta dalam lingkungan kerja masing-masing.

Rangkaian kegiatan akan ditutup melalui Wrap Up Session yang difasilitasi Fauziah Zulfitri. Peserta akan diajak memilih satu insight yang paling relevan, menerjemahkannya menjadi komitmen tindakan, serta menjawab pertanyaan reflektif: “What will I do differently as a leader starting tomorrow?”

“Kami berharap peserta tidak pulang hanya membawa catatan, tetapi membawa satu keputusan tentang apa yang akan mereka lakukan secara berbeda. Karena leadership growth pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak insight yang kita kumpulkan, melainkan seberapa konsisten insight tersebut mengubah perilaku dan cara kita memimpin,” tutur Fauziah.

Melalui MLS 2026, Makassar diposisikan sebagai ruang perjumpaan gagasan mengenai masa depan kepemimpinan. Forum tersebut membawa perspektif dari Indonesia Timur ke dalam percakapan yang lebih luas, tentang bagaimana pemimpin membentuk organisasi, manusia, dan masa depan.

Pos terkait