BERITA45.COM, MAKASSAR - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan program OJK Mengajar, di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, pada Kamis (21/11/2024).
Program ini mengusung tema “Generasi Cerdas Keuangan Menuju Indonesia Emas” sebagai bentuk komitmen OJK, dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, khususnya di kalangan mahasiswa.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh lebih dari 2.000 mahasiswa, yang antusias mendengarkan kuliah umum dari Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono.
Dalam paparannya, Ogi menekankan pentingnya pemahaman tentang produk jasa keuangan, seperti tabungan, investasi, dan asuransi, bagi generasi muda.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa membeli produk jasa keuangan, termasuk asuransi, adalah kebutuhan untuk melindungi diri dari risiko. Edukasi ini juga membekali mereka untuk mengelola keuangan dengan bijak,” kata Ogi.
Selain memberikan kuliah umum, program ini juga menghadirkan lembaga jasa asuransi dan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI).
Mereka membuka booth edukasi, yang menyediakan informasi tentang berbagai produk keuangan, dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Ogi, keberadaan booth ini bertujuan untuk memberikan pemahaman praktis kepada mahasiswa.
“Melalui edukasi langsung seperti ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami, tetapi juga mampu memanfaatkan produk keuangan, untuk kebutuhan jangka pendek maupun panjang,” tambahnya.
Program OJK Mengajar di Unhas, menjadi bagian dari 1.762 kegiatan edukasi keuangan, yang telah dilaksanakan OJK sepanjang 2024.
Kegiatan ini berhasil melibatkan 186.585 peserta, mencerminkan upaya masif OJK dalam mendorong peningkatan indeks literasi keuangan di Indonesia.
Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Darwisman, menyebutkan, program edukasi keuangan memiliki dampak signifikan, terhadap peningkatan kesadaran masyarakat.
“Angka ini belum termasuk edukasi yang dilakukan melalui media digital seperti radio dan platform lainnya. Kami terus berkomitmen memperluas akses literasi keuangan,” ungkapnya.
Darwisman juga menjelaskan, pengaduan masyarakat ke OJK, sebagian besar terkait dengan perbankan.
Hingga saat ini, OJK telah berhasil menyelesaikan 99 persen pengaduan yang masuk, menunjukkan responsivitas dan komitmen institusi tersebut, dalam melindungi konsumen.
Di samping itu, OJK tengah mengembangkan produk keuangan yang lebih inklusif, terutama untuk pekerja informal dan masyarakat yang belum memasuki usia kerja.
Fokus ini diarahkan pada sektor asuransi dan dana pensiun, untuk memperluas cakupan layanan keuangan.
Melalui program seperti OJK Mengajar, OJK menargetkan peningkatan indeks literasi dan inklusi keuangan, yang menjadi indikator penting dalam survei tahunan mereka.
“Program ini bukan hanya edukasi, tetapi juga investasi dalam membangun generasi cerdas keuangan, untuk menyongsong Indonesia Emas pada 2045,” tegas Ogi dalam penutup kuliah umumnya.
OJK percaya, kolaborasi antara lembaga keuangan, institusi pendidikan, dan masyarakat adalah kunci untuk mencapai literasi dan inklusi keuangan yang berkelanjutan.
Dengan sinergi yang terjalin kuat, literasi keuangan diharapkan menjadi fondasi kokoh dalam menciptakan masyarakat yang inklusif, cerdas, dan sejahtera, sehingga mampu berkontribusi pada visi Indonesia Emas.