Image
Image

OJK Cermati Perkembangan di Timur Tengah, dan Dampaknya Terhadap Stabilitas Sistem Keuangan

18-Apr-2024    Rahmi
facebook twitter whatsapp

BERITA45.COM, JAKARTA -  Rapat Dewan Komisioner Mingguan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada 17 April 2024, menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional terjaga.


Ini didukung oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, dan profil risiko yang manageable, sehingga mampu menghadapi peningkatan tensi geopolitik global. 


Namun demikian, OJK mencermati perkembangan terkini di Timur Tengah, dan dampaknya terhadap kinerja intermediasi dan stabilitas sistem keuangan nasional ke depan.


Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi, Aman Santosa mengatakan, di tengah peningkatan ketidakpastian tersebut, OJK menilai,,fundamental perekonomian Indonesia terjaga baik.


"Ini terlihat dari pertumbuhan yang terjaga di kisaran 5 persen, inflasi yang berada di rentang target Bank Indonesia, neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus, cadangan devisa yang memadai, serta masih tersedianya ruang fiskal," sebutnya. 


Sampai dengan Februari 2024, menurut Aman Santosa, eksposur Lembaga Jasa Keuangan (LJK) secara langsung, terhadap Kawasan Timur Tengah, relatif terbatas. 


Surat berharga dengan penerbit dari Timur Tengah, yang dimiliki perbankan domestik, hanya sebesar Rp1,3 triliun atau 0,06 persen, dari total surat berharga yang dimiliki perbankan.


Sementara, asuransi dan perusahaan pembiayaan, tidak memiliki surat berharga dengan penerbit dari Timur Tengah. 


Sementara itu di pasar saham, nilai kepemilikan saham investor dari Timur Tengah tercatat sebesar Rp65,73 triliun, atau sekitar 2 persen dari total nilai kepemilikan saham investor non-residen. 


"Kepemilikan LJK (pengendali) oleh investor di Timur Tengah, tercatat hanya di perbankan dengan asset share sebesar 0,1 persen, dari total aset perbankan," ungkap Aman Santosa.


Ke depan, jelasnya, buffer untuk mempertahankan stabilitas sistem keuangan, di tengah potensi eskalasi konflik di Timur Tengah,  dinilai masih cukup memadai.


Setelah mempertimbangkan kondisi tingkat permodalan yang tertinggi di Kawasan, risiko nilai tukar yang cukup terkendali, yang terlihat dari Posisi Devisa Netto (PDN) Perbankan harian posisi awal April 2024, yang jauh di bawah threshold (1,67 persen dengan threshold 20 persen), serta likuiditas dalam mata uang rupiah dan valas yang masih ample. 


Namun demikian, OJK akan tetap mencermati perkembangan risiko pasar Lembaga Jasa Keuangan, dan mencermati pembiayaan ke sektor-sektor yang memiliki exposure tinggi terkait konflik di Timur Tengah, termasuk mencermati kondisi individual LJK. 


"OJK meminta LJK, untuk senantiasa melakukan evaluasi terkait potensi dampak transmisi, dari perkembangan perekonomian global dan domestik, terhadap portofolio yang dimilikinya, dan melakukan langkah mitigasi yang diperlukan," tutur Aman Santosa.


Di samping itu, OJK jug terus berkoordinasi dengan Anggota KSSK, serta berkomitmen mengeluarkan kebijakan yang dibutuhkan secara tepat waktu.