BERITA45.COM, MAKASSAR – Dokter spesialis kebidanan dan kandungan Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. dr. Elizabeth C. Jusuf, SpOG (K), menegaskan, vaksinasi HPV dan pemeriksaan pap smear merupakan langkah paling efektif mencegah kanker serviks.
Pesan tersebut disampaikan, saat menjadi pemateri dalam penyuluhan “Pencegahan & Deteksi Dini Kanker” di hadapan pengurus dan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unhas, di Kampus Unhas Tamalanrea, Kamis (20/11/2025).
Menurut Dr. Eli, vaksin HPV (Human Papillomavirus) sangat penting diberikan sejak usia dini, mulai usia sembilan tahun.
Selain melindungi tubuh dari virus penyebab kanker, vaksin ini mampu membentuk antibodi protektif guna mencegah pra-kanker hingga kanker serviks (KS).
“Vaksin HPV efektif dan aman. Ini adalah langkah awal untuk melindungi perempuan sebelum terinfeksi,” jelasnya.
Selain vaksinasi, ia juga menekankan pentingnya skrining melalui tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) yang dapat dilakukan secara mudah dan gratis di puskesmas.
Skrining IVA, kata Dr. Eli, sangat membantu deteksi dini, karena dapat melihat perubahan pada leher rahim. “Tidak ribet, tidak mahal, dan bisa dilakukan kapan saja di puskesmas,” ujarnya.
Dosen Fakultas Kedokteran Unhas itu turut menepis kekhawatiran sebagian perempuan, yang takut menjalani pap smear.
Ia menjelaskan, pap smear hanya menimbulkan rasa tidak nyaman selama beberapa detik, saat pengambilan sampel.
“Banyak perempuan takut karena menganggap pap smear menyakitkan. Padahal tidak. Hanya seperti dicubit sedikit,” jelas dokter yang praktik di RS Unhas dan RS Siloam Makassar tersebut.
Ia menjelaskan, pap smear sebaiknya dilakukan rutin bagi perempuan berusia 21 hingga 65 tahun. Untuk usia 21–29 tahun, pemeriksaan dilakukan setiap tiga tahun, sedangkan usia 30–65 tahun setiap lima tahun.
Pemeriksaan ini, tegasnya, sangat efektif mendeteksi perubahan sel yang berpotensi menjadi kanker.
Dr. Eli juga mengingatkan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai, seperti perdarahan abnormal, keputihan berbau atau bercampur darah, nyeri panggul, serta nyeri saat berhubungan seksual.
Selain itu, hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan drastis, dan kelelahan berkepanjangan bisa menjadi tanda kanker serviks. “Jangan abaikan gejala-gejala ini,” pesannya.
Mengutip data Globocan 2020, Dr. Eli memaparkan fakta mencengangkan, setiap jam dua perempuan Indonesia meninggal akibat kanker serviks.
Indonesia bahkan menjadi negara dengan kasus kanker serviks tertinggi di Asia Tenggara, dengan 100 kasus baru per hari dan 57 kematian setiap harinya.
Meski sempat menyelipkan humor yang mengundang tawa peserta, suasana penyuluhan tetap berlangsung serius. Banyak peserta mengajukan pertanyaan, terkait pencegahan maupun deteksi dini kanker leher rahim.
Ia berharap, pap smear dapat dimasukkan sebagai salah satu pemeriksaan rutin dalam program medical check-up (MCU) bagi dosen dan tenaga kependidikan Unhas, yang saat ini tengah digagas Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc.
“Jadi jangan takut. Kanker serviks bisa dicegah. Lakukan vaksin HPV dan skrining rutin melalui pap smear atau IVA. Ingat, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati,” tegas Dr. Elizabeth Catherina Jusuf.